Undana Kupang Dukung Percepatan Penurunan Stunting pada Dua Posyandu di TTS

SOE.NUSA FLOBAMORA– Lembaga Perguruan Tinggi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang mendukung program pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Langkah strategis yang dilakukan Undana Kupang adalah melalui diversifikasi pengolahan pangan lokal dan pendampingan ketahanan pangan rumah tangga di Posyandu Sonaf  dan Dahlia Meset Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Kota Soe Kabupaten TTS.

Untuk diketahui, masalah stunting masih membayangi Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), mendorong lahirnya program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Nusa Cendana.

Program ini bertajuk “Diversifikasi Pengolahan Pangan Lokal dan Pendampingan Ketahanan Pangan Rumah Tangga dalam Mendukung Percepatan Penurunan Stunting”.

Intervensi berbasis pemberdayaan masyarakat ini menyasar dua posyandu di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Kota Soe, salah satunya Posyandu Kampung Baru.

Langkah ini diambil untuk mengatasi salah satu masalah gizi paling mendesak di wilayah tersebut.

PREVALENSI STUNTING MASIH TINGGI

Kabupaten TTS tercatat sebagai salah satu daerah dengan beban stunting tertinggi di Provinsi NTT. Data menunjukkan, Tahun 2021: Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensi stunting mencapai 48,3 persen.
Tahun 2025: Data terbaru menunjukkan angka masih di posisi 36,5 persen. Angka ini berada jauh di atas target penurunan provinsi sebesar 33,1 persen.

Kondisi nyata terlihat di tingkat kelurahan. Dari 154 balita yang terdaftar di Posyandu Kampung Baru, sebanyak 69 anak (44,81 persen) mengalami stunting. Angka ini menjadi bukti bahwa kedekatan wilayah dengan pusat pemerintahan dan layanan kesehatan tidak menjamin status gizi anak yang baik.

AKAR MASALAH MULTIDEMSI

Tim pelaksana program mengidentifikasi bahwa akar persoalan stunting di Kampung Baru bersifat multidimensi. Selain faktor kesehatan, penyumbang utamanya meliputi:

-Rendahnya ketahanan pangan rumah tangga.
-Pola konsumsi keluarga yang belum beragam.
-Minimnya pengetahuan masyarakat tentang gizi seimbang.

Ironisnya, wilayah ini memiliki sumber daya pangan lokal yang melimpah, seperti jagung, ubi-ubian, daun kelor, kacang-kacangan, pisang, hingga hasil ternak rumah tangga.

Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada pola konsumsi sederhana dan belum diolah menjadi produk pangan bergizi yang memiliki nilai tambah.(*/ER)