KUPANG, NUSA FLOBAMORA—-Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memberikan apresiasi tinggi kepada Kelurahan Penfui yang dinilainya sebagai miniatur Kota Kupang. Hal ini karena Kelurahan Penfui dihuni oleh masyarakat yang multi-etnis, multi-agama, suku, dan ras, namun tetap hidup berdampingan secara damai.
Rasa terima kasih dan apresiasi tersebut disampaikan Wali Kota Christian saat membuka secara resmi Festival Budaya Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, pada Kamis (20/08/2026).
Dalam sambutannya, Wali Kota Christian menekankan bahwa merayakan kemerdekaan bukan sekadar memperingati momentum terbebas dari penjajahan masa lalu. Lebih dari itu, esensi kemerdekaan adalah tentang kontribusi nyata dalam mengisi ruang pembangunan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan.
“Saat ini, tantangan yang dihadapi bangsa kita tidak kalah berat. Kita menghadapi kemiskinan yang memiskinkan harapan, kebodohan yang membatasi langkah, pengangguran yang melemahkan daya juang, serta ketidakadilan yang menghancurkan. Ini adalah musuh nyata yang sama beratnya dengan senjata dan meriam yang dihadapi para pendiri bangsa dahulu,” ujar Walikota Christian.
Oleh karena itu, Wali Kota Kupang yang di kenal sangat dekat dengan masyarakatnya ini menilai Festival Budaya menjadi salah satu langkah strategis untuk melanjutkan perjuangan bangsa.
Menurutnya, festival ini bukan sekadar panggung hiburan, melainkan ruang untuk mempererat tali persatuan.
“Persatuan itu bukan berarti menjadi sama, melainkan berjalan bersama dalam perbedaan. Harmoni itu seimbang, bukan seragam. Keberagaman di Kota Kupang tidak pernah menjadi penghalang, tetapi selalu menjadi kekuatan. Ia tidak memisahkan, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan kita. Mari kita jaga terus persatuan dan hidup dalam harmoni ini,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Lurah Penfui, Fransisko Dugis, menyampaikan terima kasih yang mendalam atas kehadiran Wali Kota Kupang beserta jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di tengah padatnya agenda kerja mereka.
Fransisko menjelaskan, Festival Budaya bertajuk “Multi-Etnis” ini akan berlangsung selama tiga hari ke depan. Pihak kelurahan mengangkat tema “Melestarikan Budaya di Tengah Budaya Modern” dengan sub-tema “Kolaborasi Harmoni Sentuhan Tradisional dalam Balutan Modern”. Untuk tahun 2026 ini, festival menampilkan kekayaan budaya dari etnis Rote Ndao.
“Pada hari pertama pembukaan ini, panggung dimeriahkan oleh pentas tari dan nyanyian dari anak-anak tingkat SD, SMP, dan SMA se-Kelurahan Penfui. Besok, 21 Agustus, acara akan dilanjutkan dengan lomba fashion show, vokal grup, serta tarian kreasi antar-RW,” jelas Fransisko.
Ia berharap festival ini mampu membangkitkan kembali semangat kebersamaan, gotong royong, dan rasa cinta tanah air.
Selain itu, kegiatan ini juga dirancang untuk menggerakkan roda ekonomi para pelaku UMKM lokal, khususnya kaum ibu, agar dapat produktif menghasilkan pendapatan.
Dampak positif ekonomi ini dirasakan langsung oleh Indah Purnamasari, salah satu pelaku UMKM dari RT 08/RW 04 Kelurahan Penfui. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya ruang jualan yang disediakan oleh panitia selama dua pekan terakhir, mulai dari rangkaian perlombaan HUT ke-81 RI hingga pembukaan festival budaya
“Saya berjualan salome, es teler, dan makanan ringan. Pengunjung selalu ramai dan keuntungan bersihnya cukup lumayan, bisa mencapai lebih dari Rp100 ribu per hari,” kata Indah sumringah.
Indah pun berharap pemerintah setempat tidak hanya menggelar kegiatan serupa saat momen agustusan saja. Ia berharap ke depan ada pasar rakyat atau bazar berkala yang diinisiasi oleh kelurahan agar pelaku usaha kecil seperti dirinya terus mendapat wadah untuk berkembang.( ER)







