KUPANG, NUSA FLOBAMORA—-PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Pengatur Beban Nusa Tenggara Timur (PLN UP2B NTT) sukses memodernisasi infrastruktur ketenagalistrikan daerah. Sistem keselamatan jaringan konvensional yang tersebar (Underfrequency Relay / UFR per gardu induk) kini resmi bermigrasi menjadi sistem proteksi terpusat (Underfrequency Protection Centralized).
Langkah canggih ini rampung dilaksanakan pada Rabu (03/06).
Inovasi digital ini bertujuan menjaga ketahanan sistem kelistrikan sekaligus mencegah potensi pemadaman meluas (blackout) di wilayah NTT.
Komitmen Layanan Prima untuk Warga
General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTT, F. Eko Sulistyono, menegaskan bahwa inovasi digital ini didedikasikan sepenuhnya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Sistem terpusat ini memastikan pasokan listrik ke rumah warga, fasilitas umum, hingga pusat bisnis tetap stabil dan andal.
“Listrik kini telah menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari anak-anak yang belajar di malam hari, pelaku UMKM, hingga pelayanan di rumah sakit.
Melalui digitalisasi sistem proteksi terpusat ini, kami ingin memastikan masyarakat NTT dapat menikmati listrik dengan rasa aman, tanpa perlu khawatir akan gangguan kedip atau padam akibat fluktuasi beban,” ujar Eko Sulistyono.
Respons Cepat Berbasis Data Presisi
Sistem kelistrikan di NTT saat ini berkembang sangat dinamis dengan interkoneksi yang makin luas.
Kondisi tersebut menuntut adanya pengawasan jaringan yang langsung, cepat, dan presisi.
Modernisasi ini diharapkan mampu meminimalkan durasi serta dampak kedip akibat gangguan frekuensi rendah. Dengan demikian, infrastruktur kelistrikan NTT semakin tangguh dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, aktivitas harian warga, serta sektor pariwisata premium daerah secara berkelanjutan.
Pantauan Terpadu dari Pusat Kendali
Manager PLN UP2B NTT, Andi Martha Siswahyudi, menyampaikan bahwa pembaruan skema proteksi ini merupakan bagian integral dari transformasi digital PLN demi menghadirkan layanan terbaik bagi pelanggan.
“Sistem konvensional yang semula bekerja secara mandiri di setiap gardu induk kini digantikan oleh Underfrequency Protection Centralized. Di sini, seluruh parameter frekuensi dipantau secara terpadu dari pusat kendali (control center). Ini adalah bentuk nyata PLN dalam merespons dinamika beban modern dan terus menaikkan kelas kualitas layanan kelistrikan bagi seluruh lapisan masyarakat,” jelas Andi.
Proses migrasi teknologi ini dilakukan secara serentak di seluruh gardu induk yang tersebar di Pulau Timor dan Pulau Flores. Prosesnya melibatkan integrasi teknologi komunikasi berbasis serat optik (fiber optic) berkecepatan tinggi serta pembaruan perangkat keras (hardware) di setiap gardu induk dalam jaringan interkoneksi.
Melalui keberhasilan implementasi Underfrequency Protection Centralized ini, PLN NTT optimistis dapat terus menyediakan energi listrik yang andal, efisien, dan berkualitas tinggi di bumi Flobamora.(*/ER)







