KUPANG, NUSA FLOBAMORA—-Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat mengambil langkah konkrit dalam mengantisipasi ancaman Kemarau Extrim akibat fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.
Pada Jumat, 31 Juli 2026, Kementan secara masif menggelar Gerakan Tanam Serempak serentak di 25 provinsi di seluruh Indonesia. Langkah strategis ini menjadi komitmen nyata pemerintah dalam memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga di tengah perubahan iklim global yang ekstrem.
Ancaman El Nino tidak boleh dianggap sepele karena dapat menurunkan produktivitas pertanian secara signifikan jika tidak diantisipasi dengan tata kelola air yang tepat. Melalui sinergi lintas sektor Pusat dan dearah dan pemanfaatan teknologi pertanian modern, Kementan memastikan akselerasi masa tanam tetap berjalan optimal di titik-titik krusial sentra produksi padi.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menginstruksikan bahwa gerakan tanam serempak ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam mengamankan stok beras nasional.
“Kita tidak boleh menyerah pada kondisi iklim. Fenomena El Nino memang membawa tantangan kekeringan, tetapi dengan gerak cepat, pemanfaatan sarana prasarana air, serta optimasi lahan yang tepat, kita justru harus menembus batas produktivitas.
Gerakan tanam ini adalah bukti kedaulatan pangan Indonesia tetap tangguh dan terjaga,” tegas Menteri Pertanian.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM) Idha Widi Arshanti menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) pertanian di lapangan. Menurutnya, penyuluh, petani, hingga generasi muda pertanian harus menjadi benteng terdepan dalam mengawal keberhasilan gerakan ini.
“SDM pertanian adalah kunci utama. Dalam menghadapi El Nino, para penyuluh dan petani harus disiplin menerapkan teknologi budidaya hemat air dan responsif terhadap perubahan cuaca. BPPSDM terus menggerakkan seluruh institusi pelatihan dan pendidikan untuk mendampingi petani secara langsung di lapangan agar target tanam dapat tercapai secara presisi,” ujar Kepala BPPSDM.
Salah satu lokasi pelaksanaan Gerakan Tanam Serempak ini berlangsung di Desa Tuatuka, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lokasi ini menjadi bukti nyata bahwa wilayah bersuhu tinggi dan rentan kekeringan pun mampu melakukan akselerasi tanam jika dikelola dengan strategi adaptif.
Hadir secara langsung memimpin Gerakan Tanam di Kupang, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Tedy Dirhamsyah menegaskan pentingnya percepatan tanam di wilayah Nusa Tenggara Timur. Dalam pernyataannya di lokasi acara, beliau menyampaikan:
“Kami hadir langsung di Desa Tuatuka untuk memastikan bahwa komitmen pemerintah pusat benar-benar terimplementasi hingga ke tingkat tapak. Di lahan Optimasi Lahan (OPLAH) ini, kita membuktikan bahwa keterbatasan air akibat El Nino bisa kita atasi bersama dengan gotong royong dan penerapan teknologi yang tepat.”
Di Desa Tuatuka, gerakan tanam dilaksanakan di lahan OPLAH dengan target luas penanaman mencapai 55 hektare dari total potensi lahan OPLAH sebesar 73 hektare. Penanaman di lokasi ini menerapkan metode (PM AAS), sebuah inovasi budidaya yang dirancang khusus untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air serta mempercepat proses masa tanam tanpa mengurangi potensi hasil panen.
Kegiatan di Desa Tuatuka turut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan daerah yang berkomitmen mensukseskan ketahanan pangan lokal. Tampak hadir dalam kegiatan ini antara lain Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Kepala BBPP Kupang, Perwakilan BRMP NTT, Penyuluh Pertanian Lapangan, Petani setempat serta Brigade Pangan
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Kepala SMK PP Negeri Kupang Bogarth K. Watuwaya yang turut mengerahkan insan pendidikan pertanian untuk mengawal gerakan tanam serempak ini. Beliau menyatakan bahwa keterlibatan institusi pendidikan dan generasi muda sangat vital dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian.
“SMK PP Negeri Kupang siap berdiri di garis depan bersama petani dan Brigade Pangan. Keterlibatan siswa dan tenaga pendidik dalam gerakan tanam ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis di lapangan, tetapi juga menumbuhkan semangat kebangsaan untuk membela ketahanan pangan daerah dari ancaman El Nino,” kata Bogarth (31/7/26).
Melalui pelaksanaan Gerakan Tanam Serempak ini Kementan berharap akselerasi percepatan tanam dapat meminimalisir dampak penurunan produksi akibat kekeringan pasca-El Nino. Diharapkan, keberhasilan pertanaman seluas 55 hektare di Desa Tuatuka ini dapat menjadi percontohan (demo plot) sukses bagi wilayah-wilayah lain di NTT dalam memanfaatkan lahan OPLAH secara optimal. Dengan kolaborasi kokoh antara Kementan, pemerintah daerah, penyuluh, serta semangat juang petani dan Brigade Pangan, target kemandirian dan stabilitas pangan nasional dipastikan dapat terwujud secara berkelanjutan.( */Rilis SMK PP Negeri Kupang/ ER)






