KUPANG.NUSA FLOBAMORA—Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi guna mencetak sumber daya manusia (SDM) pertanian yang kompeten, mandiri, dan berjiwa wirausaha.
Melalui SMK PP Negeri Kupang, para siswa diterjunkan langsung ke lapangan untuk mengasah keterampilan teknis tingkat lanjut, yakni pemeriksaan kebuntingan (PKB) pada ternak sapi milik masyarakat di Desa Nunkurus, Kabupaten Kupang, Jumat (6/3/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menyelaraskan teori yang diperoleh di kelas dengan praktik di lapangan, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan produktivitas ternak di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan pendidikan vokasi merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan sektor pertanian dan peternakan nasional.
Menurutnya, lulusan pendidikan vokasi harus mampu menjadi motor penggerak pembangunan pertanian di daerah.
“Kita tidak boleh hanya mencetak lulusan yang kuat secara teori. Mereka harus turun ke lapangan, menyentuh langsung ternak, serta membantu kesulitan peternak. Keterampilan seperti pemeriksaan kebuntingan adalah keahlian spesifik yang sangat dibutuhkan di dunia industri. Inilah cara kita menyiapkan ‘tentara’ pembangunan pertanian yang siap kerja dan siap pakai untuk mewujudkan swasembada pangan,” ujar Amran.
Kegiatan tersebut melibatkan 19 siswa dari kompetensi keahlian keperawatan hewan. Untuk memastikan akurasi dan prosedur medis yang tepat, SMK PP Negeri Kupang juga menggandeng tim ahli dari Dinas Peternakan Kabupaten Kupang yang terdiri atas dokter hewan dan inseminator berpengalaman.
Sebanyak 30 ekor sapi betina milik warga setempat menjadi objek pemeriksaan. Para siswa, di bawah bimbingan dokter hewan, mempraktikkan metode palpasi rektal untuk mendeteksi keberadaan fetus secara manual.
Selain pemeriksaan kebuntingan, kegiatan ini juga diisi dengan pemberian vitamin dan suplemen untuk meningkatkan kondisi fisik serta daya tahan tubuh ternak.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arshanti mengatakan praktik langsung di tengah masyarakat merupakan bentuk nyata dari konsep “merdeka belajar”.
“Siswa belajar berkomunikasi dengan peternak, memahami persoalan reproduksi ternak di lapangan, serta memberikan solusi. Ini menjadi bagian dari upaya mempercepat target swasembada daging nasional melalui manajemen reproduksi yang terkontrol. Kami ingin lulusan SMK PP memiliki standar kompetensi yang diakui dunia usaha,” ujarnya.
Desa Nunkurus dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi rakyat di Kabupaten Kupang.
Kehadiran siswa dan tim medis memberikan manfaat ganda, yakni siswa memperoleh pengalaman praktik langsung, sementara peternak mendapatkan layanan kesehatan ternak secara gratis.
Kepala SMK PP Negeri Kupang, Bogarth K. Watuwaya, menjelaskan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari kurikulum berbasis industri yang diterapkan sekolah.
“Kami mengarahkan siswa agar tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial. Melalui pemeriksaan 30 ekor sapi ini, siswa belajar tentang anatomi dan fisiologi reproduksi secara nyata, bukan sekadar dari buku teks. Ini adalah investasi keterampilan bagi masa depan mereka,” katanya.
Sementara itu, Guru Mata Pelajaran Reproduksi Ternak, T.M. Thiesen Outang, menjelaskan bahwa metode palpasi rektal membutuhkan keterampilan dan pengalaman yang tinggi.
“Melalui metode ini, siswa harus mampu meraba rahim sapi melalui saluran pencernaan untuk mendeteksi keberadaan fetus. Praktik pada 30 ekor sapi ini membantu meningkatkan sensitivitas tangan siswa sehingga mereka tidak hanya memahami teori siklus estrus, tetapi juga mampu mengenali kondisi nyata reproduksi sapi,” jelasnya.
Pemeriksaan kebuntingan merupakan keterampilan penting dalam manajemen usaha peternakan. Dengan mengetahui status kebuntingan lebih awal, peternak dapat segera melakukan tindakan lanjutan seperti inseminasi buatan (IB) ulang jika sapi tidak bunting, sehingga dapat mencegah kerugian waktu dan biaya pakan.
Kegiatan ditutup dengan evaluasi hasil pemeriksaan bersama para peternak setempat. Melalui kolaborasi ini, Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya berfokus pada pembelajaran di kelas, tetapi juga hadir sebagai solusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.(*/Rilis SMK PP Negeri Kupang/ ER)







