Tak Gentar Hadapi El Nino, Kementan Laksanakan Percepatan Tanam di 25 Provinsi

KUPANG, NUSA FLOBAMORA—– Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat percepatan produksi padi sebagai langkah strategis menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan potensi El Nino, Kementan mendorong percepatan tanam secara serentak di 22 provinsi dengan sasaran luas tanam mencapai sekitar 50.000 hektare, yang mencakup pemanfaatan lahan melalui program Optimasi Lahan (OPLAH) serta cetak sawah rakyat (CSR).

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan lahan pertanian tetap produktif dan mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi pangan nasional. Percepatan tanam juga diarahkan agar lahan yang telah mendapatkan dukungan program pemerintah maupun dapat segera dimanfaatkan secara optimal.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa tantangan iklim tidak boleh menjadi alasan untuk memperlambat produksi pangan. Menurutnya, percepatan tanam harus dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh potensi lahan, memperkuat pendampingan petani, serta memanfaatkan mekanisasi dan inovasi teknologi pertanian.

“Kita tidak boleh berhenti hanya karena menghadapi tantangan iklim. Lahan yang tersedia harus segera ditanami, produktivitas harus ditingkatkan, dan seluruh kekuatan harus bergerak bersama. Percepatan tanam menjadi bagian penting dalam menjaga produksi dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Amran.

Selain memperluas areal tanam, Kementan juga terus mendorong modernisasi budidaya melalui penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS). Model ini mengintegrasikan pengaturan populasi tanaman, efisiensi sumber daya, mekanisasi, pengelolaan skala luas, intensifikasi produksi, serta penerapan teknologi sesuai kondisi spesifik lokasi.

Kepala BPPSDMP Idha Widi Arshanti menyampaikan bahwa keberhasilan percepatan tanam sangat ditentukan oleh kekuatan pendampingan di lapangan.

“Percepatan tanam bukan hanya persoalan menanam lebih cepat, tetapi memastikan seluruh proses budidaya berjalan dengan baik. Penyuluh, petani, generasi muda, TNI, serta seluruh unsur pendukung harus bergerak bersama agar lahan yang sudah dioptimalkan benar-benar menghasilkan produksi yang optimal,” ungkap Idha.

Salah satu lokasi pelaksanaan kegiatan berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kabupaten Kupang, Kecamatan Kupang Tengah, Desa Mata Air. Kegiatan dilaksanakan di lahan OPLAH milik Kelompok Tani Naimanu dengan luas lahan olah mencapai 36 hektare pada Jumat (18/09/2026).

Kegiatan tersebut merupakan penanaman yang ketiga, menunjukkan keberlanjutan pemanfaatan lahan dan komitmen petani untuk menjaga produktivitas pertanian.

Kepala SMK PP Negeri Kupang Bogarth K. Watuwayamenyampaikan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun pertanian masa depan.

“Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran nyata bagi generasi muda untuk melihat bahwa pertanian merupakan sektor strategis yang membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, kerja sama, dan inovasi. Kami mendorong siswa, mahasiswa dan generasi muda untuk mengambil peran dalam pembangunan pertanian,” jelas Bogarth.

Pelaksanaan percepatan tanam di Desa Mata Air turut melibatkan Kepala BBPP Kupang, BRMP NTT, para penyuluh pertanian, Babinsa setempat, LO Brigade Pangan, anggota kelompok tani, serta kaum milenial dari mahasiswa Politeknik Negeri Kupang. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pertanian tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi dari hulu hingga hilir.

Bagi petani, kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memastikan lahan OPLAH terus memberikan manfaat produktif. Sementara bagi penyuluh dan generasi muda, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat transfer pengetahuan dan penerapan teknologi pertanian di tingkat lapangan.

Percepatan tanam juga menjadi semakin relevan dengan pengembangan PM-AAS yang saat ini didorong Kementan sebagai salah satu pendekatan untuk
meningkatkan produktivitas padi melalui pertanian yang lebih modern, efisien, terukur, dan berbasis teknologi. Kementan menyebut PM-AAS sebagai salah satu strategi intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas pada lahan yang sudah tersedia.

Kegiatan di Kabupaten Kupang ini pada akhirnya memperlihatkan pentingnya sinergi lintas lembaga sebagai kunci keberhasilan percepatan tanam. Pemerintah, petani, penyuluh, TNI, lembaga pendidikan, BRMP, BBPP, serta generasi muda memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi.

Dengan semangat kolaborasi tersebut, percepatan tanam diharapkan tidak hanya meningkatkan luas tanam dan produksi padi, tetapi juga memperkuat fondasi ketahanan pangan secara berkelanjutan. Di tengah dinamika iklim dan tantangan produksi pangan, seluruh elemen pertanian terus didorong untuk bergerak bersama demi menjaga ketersediaan pangan dan masa depan ketahanan pangan negeri.(*Rilis SMK PP Negeri Kupang/ ER)