Kementan dan IFAD Turun ke Kupang, Bidik Generasi Muda Jadi Motor Pertanian Masa Depan

KUPANG,NUSA FLOBAMORA– Kementerian Pertanian (Kementan) bersama International Fund for Agricultural Development (IFAD) memperkuat langkah regenerasi petani dengan mendorong lahirnya sumber daya manusia pertanian muda yang terampil, adaptif, dan berjiwa kewirausahaan.

Upaya tersebut menjadi fokus dalam rangkaian supervisi program pengembangan pemuda pertanian yang dilaksanakan di SMK-PP Negeri Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 5–7 Agustus 2026. Kegiatan ini melibatkan tim IFAD, National Project Management Unit (NPMU) dari Jakarta, serta tim Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Polbangtan Manokwari.

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat kesiapan pelaksanaan program di daerah sekaligus memperkuat ekosistem yang menghubungkan pendidikan vokasi, penyuluhan, dunia usaha, dunia industri, serta peluang kerja bagi generasi muda.

Supervisi di Kupang merupakan bagian dari rangkaian misi yang juga berlangsung di Jakarta dan Yogyakarta. Forum ini dimanfaatkan untuk menyamakan pemahaman antarunit, mengevaluasi kesiapan pelaksana, serta memastikan program yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan pemuda di wilayah sasaran.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberlanjutan pertanian nasional sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda.

“Anak-anak muda adalah pelanjut tongkat estafet pertanian bangsa Indonesia yang sangat berperan penting untuk memastikan ketersediaan pangan di masa depan. Karena itu, kita harus melahirkan inisiatif-inisiatif baru untuk mendukungnya,” kata Mentan Amran.

Sejalan dengan arahan tersebut, tim IFAD bersama Kementan tidak hanya meninjau fasilitas SMK-PP Negeri Kupang, tetapi juga mendalami kesiapan kelembagaan dan rencana pelaksanaan program di daerah.

Pembahasan mencakup modul pelatihan, mekanisme penentuan penerima manfaat, pengadaan, pengelolaan keuangan, hingga monitoring dan evaluasi. PPIU juga memaparkan kesiapan serta rencana aksi sebagai dasar pelaksanaan program di Nusa Tenggara Timur.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan regenerasi petani harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas yang berkelanjutan.

“Kami ingin menciptakan generasi muda pertanian yang adaptif, profesional, dan mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah masing-masing,” ujar Idha.

Menurutnya, penguatan kompetensi generasi muda tidak cukup hanya melalui pembelajaran di ruang kelas. Pemuda juga perlu memperoleh pengalaman lapangan, memahami kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, serta memiliki akses terhadap jejaring kerja dan peluang kewirausahaan.

Pendekatan tersebut terlihat dalam rangkaian supervisi di Kupang. Tim mengunjungi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Fatuleu untuk melihat peran kelembagaan penyuluhan di tingkat lapangan.

Kunjungan juga dilakukan ke GS Organik sebagai mitra sektor swasta yang menyediakan peluang pemagangan bagi peserta program. Keterlibatan dunia usaha dinilai penting untuk memastikan kompetensi generasi muda selaras dengan kebutuhan industri sekaligus membuka akses menuju dunia kerja.

Supervisi ini sekaligus menjadi ruang untuk menyelaraskan perspektif antara IFAD, NPMU, dan PPIU terkait target, tantangan, serta langkah tindak lanjut program.

Keberhasilan program pengembangan pemuda pertanian tidak hanya ditentukan oleh pelatihan. Ketepatan sasaran, kualitas pendampingan, tata kelola, serta kekuatan jejaring yang mampu mengantarkan pemuda menuju pekerjaan atau usaha berkelanjutan juga menjadi faktor penting.

Hasil pembahasan kemudian dituangkan dalam rencana aksi PPIU untuk memastikan implementasi program berjalan tepat sasaran, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi generasi muda di Nusa Tenggara Timur.

Melalui kolaborasi Kementan dan IFAD, pertanian didorong semakin dekat dengan generasi muda. Bukan lagi sekadar pilihan pekerjaan, sektor pertanian diarahkan menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar, bekerja, membangun usaha, sekaligus menjadi motor penggerak pertanian modern di Indonesia.(*Rilis SMK PP Negeri Kupang/ ER)