KUPANG ,NUSA FLOBAMORA— Sektor pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan gairah positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT melaporkan lonjakan signifikan pada kunjungan Wisatawan Mancanegara (Wisman) yang menembus 38,77 persen pada September 2026.
Data tersebut dibeberkan langsung oleh Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira B. Kale, dalam konferensi pers mengenai perkembangan pariwisata NTT di Aula Kantor BPS NTT, Kupang, Senin (2/11/2026).
Jalur Darat Jadi Pintu Masuk Utama
Dalam paparannya, Matamira mengungkapkan bahwa mayoritas turis asing memilih jalur darat untuk memasuki wilayah NTT.
• Jalur Darat: 78,60% (didominasi pelancong dari negara tetangga, Timor Leste)
• Jalur Udara: 20,32%
• Jalur Laut: 0,99%
“Jika ditinjau dari pintu masuk, akses darat masih menjadi primadona utama kunjungan wisman ke NTT. Untuk negara asal, kunjungan didominasi oleh warga negara Timor Leste, disusul oleh Malaysia dan Tiongkok,” jelas Matamira.
Pergerakan Wisatawan Domestik Masih Dipacu Warga Lokal
Sementara itu, pergerakan Wisatawan Nusantara (Wisnus) di NTT mencatat 893.205 perjalanan sepanjang September 2026. Meski angkanya terhitung besar, performa ini mengalami sedikit koreksi sebesar 0,49 persen secara bulanan (month-on-month) dan turun 2,14 persen secara tahunan (year-on-year).
Menariknya, aktivitas wisata domestik ini masih disokong kuat oleh pergerakan warga lokal. “Sebesar 89,41 persen dari total perjalanan domestik sebenarnya merupakan mobilitas penduduk NTT sendiri yang bepergian di dalam wilayah NTT,” tambah Matamira.
Di sisi lain, perjalanan wisatawan nasional melalui pintu imigrasi NTT menunjukkan performa impresif dengan mencatat 8.199 perjalanan, alias tumbuh 9,86 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Manggarai Barat Juara Tingkat Hunian Kamar Hotel
Di sektor akomodasi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di NTT bertengger di angka 49,03 persen. Angka ini mengalami penurunan tipis sebesar 6,36 persen secara bulanan dan 0,42 persen secara tahunan.
Labuan Bajo dan Manggarai Barat sukses mengukuhkan posisinya sebagai magnet utama pariwisata NTT dengan mencatat TPK hotel berbintang tertinggi.
Berikut rincian daerah dengan okupansi tertinggi:
1. Manggarai Barat: 68,10%
2. Sumba Barat: 47,95%
3. Kota Kupang: 37,81%
Melihat tren positif ini, Matamira merekomendasikan Manggarai Barat sebagai wilayah paling potensial bagi para investor properti dan perhotelan.
“Jika investor ingin membangun hotel berbintang baru, Manggarai Barat adalah lokasi paling strategis karena tingkat hunian kamarnya yang konsisten tinggi,” ujarnya optimis.
Sepanjang September 2026, total tamu yang menginap di hotel berbintang mencapai 67.927 orang, dengan 52,68 persen di antaranya merupakan tamu domestik. Rata-rata lama menginap tercatat selama 1,64 malam.
Tantangan di Sektor Hotel Non-Bintang
Kondisi kontras terlihat pada performa hotel non-bintang yang mencatat TPK sebesar 19,65 persen. Angka ini merosot 10,36 persen secara bulanan, walaupun masih berhasil tumbuh 3,22 persen secara tahunan.
Untuk sektor non-bintang, Manggarai Barat kembali memimpin dengan okupansi 32,94 persen, disusul Kabupaten Kupang (30,92 persen), dan Malaka (26,88 persen).
Total tamu hotel non-bintang tercatat 55.911 orang (57% domestik) dengan rata-rata menginap 1,58 malam.( ER)







