SMSI NTT Gelar Pelatihan Jurnalistik, Bahas AL dan Masa Depan Wartawan

KUPANG,NUSA FLOBAMORA– Arus digitalisasi dan ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) memaksa industri media untuk terus bergerak dinamis.

Menjawab tantangan tersebut, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Nusa Tenggara Timur (NTT) siap menggelar Pelatihan Jurnalistik bagi puluhan wartawan media anggotanya pada 5–6 Agustus 2026.

Pelatihan krusial ini mengusung tema provokatif sekaligus reflektif: “Kekuatan Influencer, Buzzer dan AI, Masih Butuhkah Wartawan?”. Tema ini sengaja diangkat sebagai respons nyata terhadap disrupsi informasi yang kini menguasai ruang digital.

Menghadirkan deretan tokoh pers papan atas NTT sebagai mentor, SMSI NTT menegaskan bahwa gempuran media sosial, pengaruh influencer, taktik buzzer, hingga dominasi AI tidak boleh menggerus esensi jurnalisme. Sebaliknya, hal ini menjadi momentum bagi wartawan untuk memperkuat kompetensi tanpa melupakan koridor kode etik.

AKSELERASI KOMPETENSI dan PROFESINALISME PERS

Ketua Panitia Pelaksana, Kosmas D. Olla, didampingi Sekretaris Vico Patty, mengungkapkan bahwa agenda ini merupakan langkah konkret organisasi dalam meng-upgrade kualitas sumber daya manusia (SDM) di ekosistem media siber lokal.

Menurut Kosmas, SMSI memegang peran kemudi yang strategis. Organisasi tidak hanya memperkuat fondasi bisnis perusahaan pers, tetapi juga menuntut profesionalisme para jurnalisnya di lapangan.

“Sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendistribusikan informasi publik, SMSI memandang peningkatan kualitas jurnalis adalah kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditunda-tunda lagi,” tegas Kosmas.

Menjinakkan AI dan Menjawab Tantangan Zaman
Lanskap media digital saat ini telah mengubah total pola konsumsi informasi masyarakat. Wartawan kini dituntut bergerak secepat kilat, namun tetap wajib mengunci akurasi, menjaga keberimbangan, dan patuh pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Oleh karena itu, pelatihan ini dirancang untuk membedah tuntas peta tantangan profesi wartawan di tengah kepungan konten buatan AI dan narasi para influencer maupun buzzer.

Selama dua hari, para peserta akan digembleng dengan materi komprehensif. Mulai dari teknik peliputan modern, strategi penulisan berita yang memikat, verifikasi informasi (fact-checking), pemanfaatan teknologi digital, regulasi pers, hingga implementasi KEJ secara profesional.
Kekuatan 91 Media Siber di NTT.

Saat ini, SMSI NTT menjadi rumah bagi lebih dari 91 media siber yang tersebar luas di berbagai kabupaten dan kota di NTT. Dari jumlah tersebut, 23 perusahaan pers tergabung dalam kepengurusan inti provinsi dan bergerak aktif menggerakkan roda organisasi.

Lebih dari sekadar wadah, SMSI NTT terus memperluas jaringan kolaborasi taktis dengan pemerintah, lembaga publik, sektor swasta, parlemen daerah hingga pusat, serta pemangku kepentingan lainnya.

Sinergi ini dibangun demi mewujudkan ekosistem informasi yang sehat, independen, dan bertanggung jawab.

Target: Melahirkan Jurnalis Adaptif

Kosmas tidak menampik bahwa medan juang wartawan saat ini makin berat akibat maraknya disinformasi dan hoaks. Kunci untuk bertahan adalah melahirkan karya jurnalistik yang berbobot dan memiliki kedalaman nilai.
“Atas dasar itulah komitmen ini kami buat. Pelatihan ini adalah investasi SMSI NTT untuk masa depan pers yang lebih baik,” lanjutnya.

Lewat program ini, SMSI NTT membidik lahirnya generasi jurnalis baru yang tidak hanya kompeten, tetapi juga tangguh dan adaptif terhadap perubahan teknologi.

“Dengan demikian, SMSI NTT dapat terus menjadi pilar penting dalam memperkuat kualitas pers nasional, sekaligus mengawal pembangunan daerah melalui penyebaran informasi yang valid dan tepercaya,” pungkas Kosmas.(*/ER)