Dari Kebun hingga Pasar, Kementan Perkuat Pengembangan Kopi Laga Lete

KUPANG, NUSA FLOBAMORA—-Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan kapasitas petani untuk memperkuat pengembangan komoditas perkebunan di daerah. Upaya tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Budidaya Kopi di Desa Laga Lete, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa – Rabu (22-23 September 2026).

Kegiatan yang melibatkan Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya ini menjadi ruang belajar bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola tanaman kopi. Materi yang diberikan mencakup teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, peningkatan kualitas biji, penanganan pascapanen, pengembangan cita rasa, pendaftaran varietas, hilirisasi, hingga peluang pemasaran kopi.

Kopi memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas unggulan Desa Laga Lete. Potensi tersebut terlihat dari kemampuan wilayah menghasilkan kopi serta peluang membangun produk lokal dengan kualitas, karakter, identitas, dan nilai jual yang lebih tinggi. Untuk mewujudkannya, peningkatan produksi perlu berjalan bersama dengan penguatan sumber daya manusia, penerapan teknologi, pendampingan, dan pengembangan pasar.

Pengembangan kopi dari hulu hingga hilir sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Dalam pernyataannya mengenai pengembangan agribisnis kopi pada kesempatan terpisah, Mentan Amran menegaskan, “Pengembangan kopi nasional harus memberikan nilai tambah yang nyata bagi pekebun. Kebijakan ke depan difokuskan pada peningkatan produktivitas kebun rakyat, peremajaan tanaman, penguatan penanganan pascapanen,” tegasnya.

Menurut Mentan Amran, pengembangan kopi juga perlu diarahkan pada percepatan hilirisasi agar komoditas yang dihasilkan petani dapat dipasarkan dalam bentuk produk olahan bernilai tambah tinggi. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar internasional sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan dan kemampuan usaha petani. Dalam pernyataannya mengenai pemberdayaan petani melalui pusat pembelajaran pertanian, Idha mengatakan, “P4S yang mampu mengembangkan usaha sekaligus menjadi pusat pembelajaran menunjukkan bahwa pemberdayaan petani dapat berjalan seiring dengan penguatan kelembagaan dan kewirausahaan.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa peningkatan keterampilan teknis perlu dilengkapi dengan kemampuan mengelola usaha dan membaca peluang pasar. Petani diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan kopi, tetapi juga memahami standar mutu, pengolahan hasil, pengemasan, promosi, serta strategi pemasaran produk.

Bimtek di Desa Laga Lete menghadirkan narasumber dari unsur pemerintahan, pendidikan, penyuluhan, pelatihan, praktisi, dan pelaku usaha. Hadir Kepala SMK PP Negeri Kupang Bogarth K. Watuwaya; Jose De A. Freitas dari unsur penyuluhan pertanian Provinsi NTT; Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang Robby Dharmawan; Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI Nandang Sudrajad; Nani Suwarni dari PVT-PP; praktisi sekaligus petani kopi Novie Pranata Erdiansyah; serta praktisi pascapanen kopi Andy Dharmawan.

Dalam paparannya, para narasumber menekankan bahwa pengembangan kopi Laga Lete perlu dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Petani harus ditempatkan sebagai pelaku utama agar peningkatan produksi dapat memberikan dampak nyata terhadap pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor, perlu didukung oleh kualitas produk yang terjaga, produksi yang konsisten, serta kemampuan memenuhi standar pasar tujuan.

Para narasumber juga menjelaskan bahwa kualitas kopi dibangun sejak tanaman berada di kebun. Pemilihan bahan tanam, teknik penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan penanganan pascapanen akan memengaruhi mutu serta karakter cita rasa kopi. Pemahaman mengenai varietas dan kondisi lingkungan tumbuh turut diperlukan untuk membangun identitas kopi Laga Lete sebagai produk khas daerah.

Selain peningkatan produksi, hilirisasi menjadi bagian penting dalam pengembangan komoditas kopi. Hasil panen dapat diolah, dikemas, dan dipasarkan menjadi berbagai produk bernilai tambah. Upaya tersebut perlu didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten, pendampingan penyuluh yang berkelanjutan, serta kolaborasi antara petani, pemerintah, lembaga pendidikan, praktisi, peneliti, dan pelaku usaha.

Bimtek ini diharapkan menjadi awal penyusunan langkah bersama yang lebih terarah, mulai dari pendataan potensi kebun, penerapan standar mutu, penguatan kelembagaan petani, pengolahan hasil, hingga promosi produk kopi kepada konsumen.

Melalui kegiatan ini, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, mempertahankan mutu, mengolah hasil panen, dan membangun karakter khas kopi Laga Lete. Dengan dukungan serta kolaborasi yang berkelanjutan, kopi Laga Lete berpeluang tumbuh menjadi salah satu identitas Sumba Barat Daya, memperluas akses pasar, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani dan masyarakat setempat.( * Rilis SMK PP Kupang/ ER)