KUPANG. NUSA FLOBAMORA– Mantan Ketua Sinode GMIT, Dr. Mery Kolimon secara khusus mengkritisi satu tahun kepemimpinan Gubernur NTT, Melki Laka Lena dan Wakil Gubernur Johny Asadoma.
Walaupun ada survei yang memberikan penilaian adanya kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Melki-Johni namun hasil tersebut masih perlu dikritisi.
Mery Kolimon memberikan catatan kritis terhadap survei yang sudah dilakukan oleh Voxpol Center Research berdasarkan perspektif tata kelola indusif dan analisis penanganan sosial.
Dr. Mery LY Kolimon menyampaikan ini saat tampil sebagai pengamat dalam acara diskusi publik survei kepuasan masyarakat terhadap satu tahun kinerja Melki- Johni yang berlangsung di Aula El Tari Kantor gubernur NTT, Jumat (20/2/2026).
Pdt. Mery mengajak pegiat di Rumah Harapan GMIT yang sehari-hari mendampingi para korban tindak pidana perdagangan orang dan kekerasan berbasis gender, untuk berbicara angka-angka hasil survei ini.
“Kami berdiskusi bahwa kalau kita cermati survei yang dilakukan ini belum secara spesifik memperhatikan permasalahan terhadap kelompok rentan seperti perempuan, anak, penyandang disabilitas, lansia,” tandasnya.
Dikatakan Pdt. Mery, instrumen survei tampaknya lebih condong untuk populasi umum dan belum secara spesifik meneropong kelompok rentan.
Kalau disandingkan hasil survei dan rekomendasi dengan RPJMD NTT 2025-2029 jelas dirumuskan gambaran data terpilah mengenai situasi kelompok rentan yang masuk dalam dalam permasalahan pembangunan dan isu strategis seperti, transformasi sosial, trasformasi ekonomi, transformasi tata kelola, transformasi budaya dan ekologi.
“Jika kita perhatikan laporan Voxpol Center memang menampilkan karakter responsif termasuk jenis kelamin, agama dan lainnya. Namun fokus analisis belum secara mendalam mengaitkan gender misalnya dengan pengalaman akses layanan,” jelasnya
Disini, gender lebih diposisikan sebagai data demogratis dari pada sebagai variabel analisa kebijakan dan dampaknya. Juga terdapat rujukan pada survei ini seperti masyarakat miskin, wilayah terpencil atau kelompok dengan kerbatasan akses.
Namun lagi-lagi kerangka analisa masih bersifat umum dan belum secara spesifik memotret kerentanan berbasis gender , disabilitas, lansia dan anak.
Menurut Pdt. Mery ini belum cukup dengan sejalan dengan pesan Gubernur Melky di berbagai kesempatan, agar program Pemprov harus terukur dan berdampak.
Pdt. Mery Kolimon juga mengatakan bahwa terselenggaranya survei serta sampai penyampaian hasilnya selama satu tahun Kepemimpinan Melky-Johni menunjukkan teladan luar biasa terkait transparasi dan akuntabilitas pemerintahan.(ER)






